Tag Archive for: Kuliner Medan

Martabak Piring Murni Medan, Jajanan Lawas Sejak 1990

Martabak Piring Murni Medan, Jajanan Lawas Sejak 1990

Akurasi.id – Kota Medan memang dikenal dengan segudang wisata kulinernya. Dari makanan berat, hingga makanan ringan. Martabak piring salah satu di antaranya. Dan salahsatu yang terkenal di Medan adalah martabak piring murni.

Dilansir dari idntimes.com, Rabu (29/09/2021), IDN Times menyambangi lokasi penjual martabak piring yang ada di Kota Medan. Tepatnya di Jalan Tjong Yong Hian.

Cukup terkenal dan ramai di kalangan wisatawan, yaitu Martabak Piring Murni. Fajril Huda (44), Pemilik Martabak Piring Murni mengatakan usaha martabak ini sudah ada sejak 1990 oleh ayahnya, Tafsir (68).

“Dulu awalnya di Jalan Kapuas, dulu ayah belajar buat martabak dari kawan-kawannya,” kenang Fajril.

“Ini namanya dulu hanya martabak piring aja, nama Murni ini digunakan baru 10 tahun,” ujarnya.

  1. Menawarkan dua jenis menu

Martabak Piring  ini menawarkan dua jenis menu yaitu martabak dengan bentuk tebal dan tipis.

Dua jenis menu itupun, bisa dipadukan dengan varian rasa topping, seperti rasa cokelat, keju dan kacang. Jika tak suka pakai topping, kamu bisa memilih rasa original, dong!

Harga yang ditawarkan untuk satu Martabak Piring ini cukup terjangkau, mulai dari Rp4 ribu sampai dengan Rp8 ribu saja.

  1. Uniknya, martabak piring ini dimasak dengan cara tradisional

Saat IDN Times melihat proses pembuatan martabak ini, memang terlihat unik. Martabak dimasak dengan cara tradisional, adonan tepung dituangkan ke atas piring berbahan kaleng dan kemudian dibakar.

Proses pembakarannya tidak menggunakan kompor, lho. Tapi menggunakan bara api dari arang.

  1. Martabak ini bisa kamu temukan di malam hari

Untuk membeli, martabak ini bisa kamu temukan pada pukul 17.30 WIB hingga 23.30 WIB, setiap hari.

“Martabak ini memang khusus kuliner malam,” kata Fajril.

Untuk komposisi pembuatan martabak, kata Fajril, terbuat dari tepung terigu, gula, pelembut dan ditambah soda untuk pengembangnya. Tak hanya itu, pembeli juga bisa memilih topping sesuai selera.

Bagaimana? tertarik untuk mencicipi kuliner khas Medan. Kamu bisa nitip temanmu apabila ada yang sedang berkunjung ke Medan. Jangan sampai ketagihan ya.  (*)

Editor: Yusva Alam

 

 

 

Nasi Ayam Asen, Kuliner Legendaris Medan yang Eksis Sejak 1968

Nasi Ayam Asen, Kuliner Legendaris Medan

Akurasi.id  Kota Medan memang tak dapat dipungkiri kaya akan kuliner. Untuk menyantap ragam sajian rasa khasnya di setiap sudut kota yang tiada tara. Berbagai kuliner legendaris juga dapat ditemui, mulai dari lontong, soto, sate hingga warung Kkpi dan lainnya membuat lidah bergoyang. Salahsatunya Nasi Ayam Asen.

Lidah memang tak bisa bohong, begitulah kalimat yang tepat buat salah satu tempat kuliner legend satu ini. Tempat resto ini bernama Nasi Ayam Asen, dengan berbagai rasa ciri khasnya.

Along, salah seorang owner Nasi Ayam Asen mengatakan, resto yang dijalankan olehnya berdiri sejak tahun 1968, yang artinya sudah berjalan 52 tahun dimulai saat membuka stand depan ruko-ruko.

“Sebenarnya ini dari orangtua, saya generasi ke 2. Awalnya orang tua itu memulainya berdiri di tahun 1968, dulunya cuma di stand biasa diruko. Jadi, berpindah-pindah tempat juga sih,” ucap Along dilansir dari idntimes.com, Senin (16/08/2021).

  1. Saat ini Nasi Ayam Asen berkonsep modern

Menurutnya, Nasi Ayam Asen pertama kali dibuka seperti tempat kios makan biasa atau warteg (warung tegal) yang berada di jalan Selat Panjang kota Medan, dan berpindah ke jalan Surabaya. Ia merupakan generasi ke-2, mengubah tempat yang menjadikan Nasi Ayam Asen berkonsep modern.

“Dari awalnya selat panjang, habis itu kita di jalan Surabaya Medan. Dari situ kita juga ada buka beberapa cabang, terus di generasi kedua saya ini sekarang zaman sudah berubah dan orang suka nongkrong begitupun kita tetap mempertahankan menu-menu legenda kita dan tambah menu baru. Kita juga mengikuti tren yaitu menjual kopi,” jelasnya.

  1. 20 tahun silam, resep warisan mulai berkembang di tangannya

Ia juga menambahkan, nama Nasi Ayam Asen tak memiliki arti khusus. Namun, Asen merupakan nama orangtuanya. Sudah 20 tahun dirinya mengakui untuk membantu orangtua, sehingga mengembangkan resto tersebut ia berinisiatif untuk membuat sesuai perkembangan zaman.

“Untuk nama itu nama orangtua, kita ikuti saja dan itu resep warisan. Sudah 20 tahun saya ikut membantu orangtua, terus disitu kita berpikir untuk mengikuti perkembangan jaman,” ungkapnya.

  1. Ciri khas sajian ayam goreng dipotong untuk mudah menikmati makanan

Dirinya juga mengatakan alasan resto hanya menjual nasi ayam, dikarenakan nasi ayam itu makanan sehari-hari yang banyak disukai oleh orang. Selain itu, ciri khas Nasi Ayam Asen saat disajikan telah dipotong-potong, sehingga mempermudah penikmat ayam untuk menyantapnya.

“Ciri khas kita di ayam goreng ya, jadi ayam kita itu rasa bumbunya itu meresap kesemua, setiap gigitannya itu tetap ada rasa ciri khas dari rasa kita dan lebih ke rasa jahe. Kita disini sudah berkembang menunya dari nasi ayam dan nasi tim,” tuturnya.

“Untuk nasinya kita buat tidak lengket. Kalau porsinya kita mengkikuti standar, kalau minat banyak orang. Disini makanannya halal, jadi kita disini gak ada pork (babi). Semenjak dibuka di jalan S. Parman kita buka halal, kalau yang lain ada,” ujarnya. (*)

Editor: Yusva Alam

 

 

Angkringan Titik Nol Medan, Serasa Nongkrong di Jogja

Angkringan Titik Nol Medan, Serasa Nongkrong di Jogja

Angkringan Titik Nol Medan, Serasa Nongkrong di Jogja

Angkringan Titik Nol khas Yogyakarta di Jalan Pasar 3 Simpang Krakatau (IDN Times/Indah Permata Sari)

Akurasi.id – Jika pernah datang ke Yogyakarta, kamu tentu gak asing dengan angkringan. Ya, para penjaja kuliner ini biasa kamu ditemui di pinggiran jalan Yogyakarta, terutama kawasan Jalan Malioboro dan sekitarnya.

Nah, gak perlu ke Jogja, di Medan pun kalian bisa menikmati makanan ala angkringan. Soalnya sudah hadir angkringan Titik Nol di Jalan Pasar 3 Simpang Krakatau.

Kamu bisa menikmati Kopi Joss, kopi khas angkringan di Yogyakarta serta Wedang Udhu dengan rempah – rempah seperti lengkuas dan lainnya. Cita rasa asli khas daerahnya bisa kamu nikmati.

Dilansir dari idntimes.com, Senin (05/07/2021) yuk langsung otewe ke angkringan Titik Nol!

  1. Bahan-bahan langsung dari Jogja

Angkringan Titik Nol ini didirikan oleh 3 anak muda yaitu Rizki Damanik, Ori Rizki dan Ahmad Muhajir sejak Desember. Mereka membangun sebuah tempat nongkong bagi para pecinta kuliner khas Jogja seperti Kopi Joss dan Wedang Udhu.

Salah seorang pemilik, Rizki Damanik mengatakan bahan-bahan pembuatan tersebut di datangkan langsung dari kota asalnya.

“Kami mendatangkan bahan – bahan tersebut langsung dari Yogyakarta, agar rasa dan kualitasnya tidak berubah,” kata Rizki.

  1. Camilan khas Jogja juga tersedia di Titik Nol

Selain menjual minuman khas Jogja, di tempat ini juga menjajakan makanan camilan untuk disantap ketika ngumpul bersama teman-teman, maupun keluarga. Seperti tempe bacem, dan sosis bakar, nasi bakar dan lainnya.

“Di sini kita jual makanan khas Jogja juga, jadi memang di konsep angkringan ala Jogja,” jelasnya.

  1. Harga terjangkau mulai dari Rp2 ribu hingga Rp10 ribu

 Seperti halnya di Yogyakarta, makanan-makanan seperti itu bisa didapatkan dengan harga murah. Ternyata konsep itu juga diterapkan di Angkringan Titik Nol. Harganya sangat ramah di kantong. Mulai dari Rp2 ribu sampai Rp10 ribu.

Angkringan ini dibuka pada hari Selasa sampai Minggu pukul 19.00 WIB hingga 00.00 WIB. Sedangkan untuk hari Senin angkringan libur. (*)

Editor: Yusva Alam