Pos

Kisah Pemilik Ayam Betutu Khas Gilimanuk Bali: Awalnya Sangat Sulit

Kisah Pemilik Ayam Betutu Khas Gilimanuk Bali: Awalnya Sangat Sulit

Kisah Pemilik Ayam Betutu Khas Gilimanuk Bali: Awalnya Sangat Sulit

AA Oka Suci pelawak sekaligus pemilik Ayam Betutu Khas Gilimanuk. (IDN Times/Ayu Afria)

Akurasi.id – Membangun dan mengembangkan sebuah usaha, memang memerlukan fokus dan perjuangan tersendiri. Terlebih dengan persaingan yang kian ketat dan dalam gempuran pandemik saat ini. Hal itu pula yang dirasakan oleh pemilik Ayam Betutu Khas Gilimanuk, AA Oka Suci. Di usianya yang kini telah menginjak 84 tahun, ia terus berupaya melakukan berbagai inovasi.

Mulanya, pada tahun 1953, ia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Perikanan Darat Kabupaten Singaraja. Kemudian pada tahun 1978, ia beralih menjadi pelawak dan terlibat dalam drama gong. Barulah pada tahun 2003, ia mencoba peruntungan dalam bisnis kuliner.

Seperti apa suka duka pemilik sembilan outlet Ayam Betutu Khas Gilimanuk dalam mempertahankan cita rasa makanan dan memajukan usahanya? Dilansir dari idntimes.com, Selasa (13/07/2021). Berikut hasil wawancara bersama AA Oka Suci.

  1. Awal membuka usaha terbilang sangat susah

Oka Suci menceritakan bahwa usaha pertama Ayam Betutu Khas Gilimanuk, tepatnya pada tahun 2003, berlokasi di Jalan Bulu Indah, Kecamatan Denpasar Utara. Akhirnya terus berkembang dan membuka banyak outlet baru. Saat ini tercatat ada sembilan outlet di seluruh wilayah Bali dan enam tempat partnership di luar Bali.

Menurut putra Bali yang lahir di Denpasar pada tahun1937 ini, menggeluti usaha kuliner masakan lokal, termasuk lumayan susah. Saat pertama membuka warung Ayam Betutu Khas Gilimanuk, ia dihadapkan dengan beberapa kondisi yang tidak mendukung. Awalnya tidak ada dukungan pemerintah terhadap usaha masyarakat, dan banyak turis yang datang ke Bali sudah disediakan makanan yang enak oleh pihak hotel. Sementara restoran di luar hotel yang dikenal oleh wisatawan hanya beberapa saja.

“Sebenarnya susah. Pada waktu kami buka zaman itu kan tidak seperti sekarang. Sekarang ini kan betul-betul government sangat membantu besar ini. Silakan buka, buka, buka. Waktu itu kami betul-betul membuat perhitungan,” ungkapnya saat ditemui Kamis (17/6/2021) di Denpasar.

Pertama kali, untuk menunjukkan kepopuleran Ayam Betutu, maka ia memutuskan memakai nama Gilimanuk dan dengan logo pelawak rekannya sendiri. Ia juga menggunakan momen kepopulerannya sebagai pemain drama di Paguyuban Lawak Bali. Akhirnya usaha yang dirintis ini pun sukses sampai sekarang.

Saat itu minat masyarakat terhadap kuliner Ayam Betutu juga lumayan baik. Misalnya, banyak orang di Denpasar yang ke Gilimanuk untuk tangkil (sembahyang) ke pura dan mampir untuk mencicipi makanan khas tersebut. Saat itu untuk memenuhi kebutuhan ayam betutu di warung pertamanya, ia harus mendatangkan ayam betutu dari Gilimanuk ke Denpasar di Terminal Ubung.

  1. Membuat inovasi baru Ayam Betutu Frozen

Hingga saat ini permintaan masakan Ayam Betutu pun semakin banyak. Ia juga membuat inovasi baru yakni Ayam Betutu Frozen yang telah diluncurkan sejak November 2020 lalu, yang lokasi usahanya berada di Tuban. Pengembangan produk ini menyesuaikan saat kondisi pandemik agar penjualan kuliner khas Gilimanuk tetap berjalan. Ayam Betutu Frozen ini pun tahan 14 hari dan bisa dibawa sampai ke luar negeri. Menurut hitungannya, selama dua bulan terakhir ini permintaan Ayam Betutu Frozen mencapai sekitar 300 ekor.

“Ya sampai sekarang ini cukup banyaklah. Malah hidup kami banyak sekali sudah dibantu dari tahun sekian itu. Daripada tourism yang kami buat itu, makin menurun,” jelasnya.

Adakah kendala lain yang ia alami? Oka Suci mengaku bahwa dengan banyaknya outlet, ia juga mengalami kesulitan menyamankan rasa Ayam Betutu. Hanya saja seiring berjalannya waktu, ia telah menyediakan produksi bumbu Ayam Betutu yang sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP). Cara itupun ternyata lebih efektif untuk mempertahankan rasa khas usaha kulinernya.

Sejauh ini pelanggannya justru lebih banyak orang Bali atau wisatawan domestik yang tengah berlibur ke Bali. Kuliner khas Gilimanuk ini, ia ungkapkan, memang tidak terlalu diminati turis asing karena rasa pedasnya.

“Tamu domestik suka sekali. Umumnya di kami, itu orang asing sedikit lah. Paling China. China, tapi bukan China luar negeri. Jadi China kita,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa persaingan usaha kuliner khas Bali sesungguhnya tidak terlalu ketat. Apalagi mengingat para pengusaha dari luar Bali produk jualannya merupakan masakan khas daerahnya masing-masing.

  1. Omzet dalam sehari bisa mencapai Rp60 juta

Kebutuhan ayam kampung per harinya mencapai ratusan ekor. Contohnya di dua outlet yang berada di Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, kebutuhan per harinya mencapai 500 ekor. Dua bulan terakhir ini, omzetnya pun mencapai Rp60 juta dalam sehari.

“Dari luar Bali. Di sini juga ada. Tetapi kebanyakan dari Jawa. Jadi halal pemotongannya, walaupun dari luar daerah,” jelasnya. Pemasok ayam kampung tersebut berasal dari daerah Jawa Timur, di antaranya Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan daerah lainnya.

Ketersediaan bahan baku ayam kampung ini, ia ungkapkan, kerap menemui kendala. Terutama ketika momen-momen Hari Raya Nasional seperti Idul Fitri dan lainnya. Mengantisipasi kesulitan ketersediaan bahan baku, maka pihaknya juga mengupayakan mencari bahan baku dari daerah lain di Bali. Namun jika memang tidak terpenuhi, maka ia terpaksa menutup outlet-nya.

“Pernah juga kami sampai tutup,” ungkap pria yang dilahirkan di Puri Jro Kuta ini. (*)

Editor: Yusva Alam