Resep Katirisala Khas Sulsel, Paduan Nasi Ketan dan Gula Merah

Resep Katirisala Khas Sulsel, Paduan Nasi Ketan dan Gula Merah

Resep Katirisala Khas Sulsel, Paduan Nasi Ketan dan Gula Merah

Katirisala, salah satu kue tradisional khas Sulawesi Selatan. (Instagram.com/lira_saltandsugar)

Akurasi.id – Salah satu kue tradisional khas Bugis-Makassar yang jadi kegemaran masyarakat adalah katirisala. Tak cuma sebagai jajanan pagi hari di pada hari biasa, tapi juga favorit jadi sajian saat berbuka puasa. Mau tahu resep katirisala khas Sulsel?

Nah, bagaimana resep Katirisala khas Sulsel dan cara pembuatan penganan kombinasi nasi ketan dan gula merah itu? Ternyata mudah, kok. Dilansir dari idntimes.com, Selasa (13/07/2021) begini resepnya.

  1. Bahan dasar untuk membuat kue katirisala

Bahan-bahan dasar :

  • Setengah liter beras ketan (hitam atau putih, sesuai selera)
  • Santan untuk ketan secukupnya
  • Potongan daun pandang
  • 7 butir telur
  • 400 gram gula merah yang sudah dicincang halus
  • 125 mililiter santan kental
  • Garam secukupnya
  1. Membuat lapisan nasi ketan

Sebagai langkah pertama, beras ketan direndam selama satu hingga dua jam. Setelah ditiriskan, beras ketan diremas-remas hingga hancur. Masukkan ke dalam dandang panas bersama sobekan daun pandan, lalu kukus sampai matang.

Setelah masak, cetak ketan dalam wadah yang sudah dilapisi pengalas. Ratakan hingga padat dan rata, lalu kukus selama kira-kira lima hingga sepuluh menit.

  1. Membuat lapisan gula merah

Sambil menunggu lapisan beras ketan matang, kerjakan lapisan manisnya. Kocok seluruh telur bersama cacahan gula merah hingga semuanya larut dan mengembang. Sebanyak 100 ml santan ditambahkan, kemudian diaduk.

Campuran gula merah dituang di atas permukaan ketan, lalu dikukus lagi. Setelah matang, langsung dinginkan.Katirisala baru bisa dipotong setelah suhunya turun. Ini agar lapisan manis tak hancur.

  1. Menurut riwayat turun temurun, kue ini tercipta dari insiden kecil

Bagi lidah biasa, paduan ketan dan gula merah jelas mengernyitkan dahi. Ini pun sesuai dengan arti kata katirisala, yang dalam bahasa Bugis berarti “salah tumpah.”

Menurut riwayat turun temurun, kue ini tercipta dari ketidaksengajaan. Alkisah pada zaman dahulu, beberapa orang tua sedang menyiapkan sokko’ –olahan nasi ketan khas Sulsel lainnya– untuk ritual pindah rumah suku Bugis (Mappalette Bola).

Dalam proses tersebut, ada larutan gula merah yang tak sengaja tertumpah ke salah satu lapisan sokko’ yang disiapkan. Tak seorang pun sadar, hingga lapisan kental aren lapisi nasi ketan.

Mendapati sokko’ berlapis gula aren, salah satu orang tua enggan membuangnya. Sambil memberanikan diri, ia mencicipi seiris kecil. Tak disangka, ia mengatakan makanan tersebut masih layak disantap, bahkan semakin lezat. Sejak itu, katirisala rutin dibuat sekaligus pengingat bahwa insiden kecil ternyata bisa berujung berkah. (*)

Editor: Yusva Alam

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *