Anjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunah Nabi Muhammad SAW

Anjuran ‘Berbukalah dengan yang Manis’ Bukan Berasal dari Sunah Nabi Muhammad SAW

Anjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunah Nabi Muhammad SAW

Anjuran ‘Berbukalah dengan yang Manis’ Bukan Berasal dari Sunah Nabi Muhammad SAW. (Ilustrasi)

Selama bulan Ramadan populer istilah ‘berbukalah dengan yang manis’. Namun, apakah hal itu sesuai dengan sunah Nabi Muhammad SAW? Ini penjelasannya.

Akurasi.id, Bontang – Istilah ‘berbukalah dengan yang manis’ sudah tak asing lagi di telinga kita. Bahkan banyak orang yang menjadikan istilah tersebut sebagai pedoman saat berbuka puasa.

Alhasil, semua makanan manis pun disantap saat waktu berbuka. Namun, tahukah bahwa sebenarnya istilah ‘berbukalah dengan yang manis’ bukan berasal dari sunah Nabi Muhammad SAW.

Istilah tersebut merupakan tagline dari sebuah brand minuman teh. Hal ini diungkap lewat cuitan @gizipedia (09/04/2021) yang telah dikonfirmasi detikfood (14/04/2021).

Lewat cuitannya juga, brand minuman teh tersebut mengatakan bahwa tagline itu telah dipakai sejak tahun 2006.

“TehBotol Sosro di momen Ramadan dengan tagline Berbukalah dengan yang manis. Tagline Ramadhan tersebut kami gunakan kurang lebih sekitar 10 tahun yang lalu,” bunyi cuitannya (20/07/16).

Pasalnya Hadist yang menganjurkan berbuka puasa dengan yang manis tidak ditemukan. Nah, kalau berbuka puasa berdasarkan sunah Nabi Muhammad SAW telah diterangkan lewat Hadist Riwayat Abu Daud no. 2356 dan Ahmad.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air,”.

Namun, beberapa ulama ada juga yang menganjurkan untuk berbuka puasa dengan yang manis. Seperti yang disampaikan oleh Ulama Al Hattab Ar Ru’aini lewat kitab Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil.

Ia menafsirkan perintah berbuka dengan ruthap atau kurma bertujuan untuk memulihkan penglihatan menurun akibat puasa. Jika kurma tidak ada, maka bisa diganti dengan makanan manis.

“Di antara sunah-sunah puasa adalah menyegerakan berbuka, sebagai bentuk kasih sayang kepada orang yang lemah, menyayangi diri dan menjadi pembeda dengan orang yahudi. Dan dengan memakan kurma atau apa yang semakna dari yang manis-manis, agar mengembalikan penglihatan yang berkurang lantaran puasa,”.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ulama Al Qadhi Ar Ruyani dalam kitabnya Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab. “Berbuka itu dengan kurma, bila tidak ada maka dengan halawah (manis-manis), bila tidak ada maka dengan air,”.

Kata halawah diartikan sebagai makanan yang manis-manis. Jadi, intinya berbuka dengan yang manis bukan berarti tidak diperbolehkan. Hanya saja anjuran itu bukan berasal dari sunah Nabi Muhammad SAW.

Berbuka puasa dengan yang manis tentu saja diperbolehkan. Sebab bagaimanapun tubuh tetap membutuhkan makanan manis agar gula darahnya stabil saat berpuasa, seperti yang dikutip dari Gizi Pedia. Asalnya jangan berlebihan. (*)

Editor: Rachman Wahid

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *